Prosesi Jolenan Somongari-Purworejo

Purworejo, Seruu.com – Suara rampak kendang membahana di kaki bukit Menoreh yang subur 'ijo royo-royo' di Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing, Purworejo (Jateng). Di sepanjang jalan desa yang dipadati ribuan pengunjung, para penari dengan khusyuknya menari mengikuti irama musik tetabuhan. Berbagai bentuk kesenian seperti kuda lumping, reog, dolalak, incling, dan shalawatan dikerahkan warga desa untuk meramaikan upacara tradisi adat Jolenan atau sedekah bumi.

Tak hanya menampilkan grup kesenian yang ada di desa tersebut, warga juga mengarak 45 jolen berupa gunungan yang terbuat dari janur berisi tumpeng, ingkung ayam, juadah, pisang raja, nasi dan lauknya. Sedang di luar Jolen dihias aneka hasil bumi seperti buah durian, manggis, rambutan, kokosan, petai, jengkol, kerupuk, rengginan, dan binggel.

Desa Somongari yang dihuni oleh 890 Kepala Keluarga (KK) dengan 2.288 jiwa tersebut memang tidak memiliki areal persawahan karena daerahnya berupa perbukitan. Walau tanpa sawah, daerah itu sangat subur dengan menghasilkan aneka hasil bumi yang menyejahterakan warga.

Upacara Jolenan yang diadakan setiap dua tahun sekali pada bulan Sapar sebagai ungkapan rasa syukur warga desa kepada Tuhan karena hasil bumi yang melimpah. Warga mengarak jolen keliling Desa Somongari lalu mengadakan doa bersama di depan makam Kedono Kedini yang merupakan cikal bakal warga Desa Somongari. Usai doa bersama, isi jolenan kemudian diperebutkan warga.

Kepala Desa Somongari Subagyo mengungkapkan, upacara perayaan Jolenan tersebut sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan karena telah diberi limpahan rezeki dari hasil bumi.

"Selain sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih kami kepada Tuhan juga untuk melestarikan tradisi leluhur budaya bangsa," ujar Subagyo.

Acara memperebutkan makanan atau 'ngalap berkah' dipercaya masyarakat setempat sebagai wujud upaya tolak bala dengan doa serta ungkapan rasa syukur kepada Yuhan atas berkah melimpahnya hasil tanaman buah-buahan dan palawija di Desa Somongari.

Cikal Bakal

Tradisi Jolenan ini selain sebagai ungkapan raya syukur kepada Tuhan juga ungkapan rasa bhakti kepada para leluhur yang menjadi cikal bakal warga Desa Somongari yakni Kiai Ageng Somongari yang diperkirakan hidup pada 1700-an dan Kiai Kedana Kedini diperkirakan hidup pada 1800-an.

Dalam cerita rakyat yang diyakini masyarakat Desa Somongari, pendiri Desa Somongari bernama Raden Mas Loka Joyo atau Kiai Ageng Somongari yang berasal dari Loano. Dikisahkan pada masa itu terjadi pagebluk di Desa Somongari. Untuk mengatasi pagebluk itu, Raden Mas Singo Negoro memerintahkan menantunya yakni Raden Mas Loka Joyo untuk mengatasinya. Raden Mas Loka Joyo kemudian mengadakan upacara Merti Desa pada bulan Sapar Jawa dengan berdoa bersama warga masyarakat desa untuk memohon pertolongan dan keselamatan. Tradisi doa bersama inilah yang kemudian dinamakan Saparan dengan dilengkapi dengan 'ngalap berkah' melalui tradisi Jolenan.

Istilah 'Jolenan' sendiri berasal dari kata 'Ojo Lenan' atau janganlah mudah terlena atau lupa kepada Tuhan atas segala keberkahan hidup.

Setelah berhasil mengatasi pagebluk, sebagai ungkapan rasa syukur dan terima-kasinya, Singo Negoro meminta Raden Mas Loka Joyo untuk memerintah desa yang terkena wabah pagebluk tersebut, Desa Somongari. Raden Mas Loka Joyo akhirnya dikenal sebagai Kiai Ageng Somongari I, atau cikal bakal Desa Somongari. Besar kemungkinan kata Somongari berasal dari kata Kusumo Asngari yang memperjelas identitas nama asli Raden Mas Loka Joyo, yakni Raden Mas Kusumo Asngari.

Tentang tokoh pepundhen Desa Somongari bernama Kiai Kedana Kedini, konon keduanya merupakan  priyagung Mataram dari Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat. Dikisahkan bahwa Kedana Kedini pergi meninggalkan Kraton Mataram bersama keluarganya dan menetap di Somongari.

Kedana Kedini dikenal sebagai seorang budayawan yang senang dengan berbagai kesenian daerah, khususnya kesenian khas Bagelenan. Sehingga, dalam perayaan Saparan atau Jolenan di Desa Somongari diwujudkan pula dengan menampilkan seluruh kesenian khas Bagelen yang masih ada. [py]

KOMENTAR SERUU