Jakarta, Seruu.com - Anggota LPSK Lili Pintauli, di Jakarta, Selasa, mengatakan, korban dan keluarga korban "Xenia maut" dapat mengajukan ganti rugi atau hak restitusi dan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) diberi mandat oleh undang-undang untuk memfasilitasi korban mendapatkan haknya dari negara.

"Meski negara melalui asuransi Jasa Raharja akan memberikan santunan pada keluarga korban dan korban langsung, para korban tetap mempunyai hak ganti rugi atas apa yang terjadi padanya," kata Lili.

Menurut Lili, UU 13/2006 serta PP 44/2008 telah mengatur mengenai hak korban tindak pidana tersebut, yang menyebutkan bahwa korban tindak pidana dapat mengajukan upaya restitusi kepada pelaku atau pihak ketiga melalui LPSK.

"Hak restitusi tersebut merupakan bentuk penghargaan dan rasa keadilan bagi korban," ujarnya.

Ia mengatakan, para korban tidak usah khawatir karena segala sesuatunya dijamin oleh negara artinya para pemohon tidak dikenakan biaya apa pun atas permohonannya.

LPSK selain diberi mandat oleh UU sebagai lembaga yang memberi perlindungan, LPSK juga memiliki kewenangan untuk memfasilitasi korban untuk mengajukan restitusi ini. "Negara harus memberi perhatian kepada para korban lalu lintas yang mengakibatkan matinya orang serta menjadi cacat selain pelaku harus diproses secara hukum," kata Lili.

Peristiwa kecelakan yang menewaskan sembilan orang itu terjadi pada Minggu (22/1) sekitar pukul 11.00 WIB ketika sekelompok warga sedang berjalan kaki di trotoar di Jalan Ridwan Rais, Jakarta Pusat. Namun, tiba-tiba sebuah mobil Xenia yang dikemudikan oleh Afriyani Susanti dengan kecepatan sekitar 100 kilometer/jam menabrak belasan warga yang sedang berjalan kaki.

Akibatnya sembilan orang meninggal dunia, yakni M Akbar (17), Suyatmi (51), Nur Alfi Fitriasi (18), Nani Riyani (23), Yusuf Sigit Prasetyo (2,5), Firmansyah (17)Buhari (17), Muhammad Hudzaifah (16) dan Wawan Hermawan.
Sementara korban luka, yakni Ken (24), Siti Komariah, (24), Indra (12) dan Teguh (30).

Sebelumnya, Polda Metro Jaya telah memastikan Afriyani Susanti yang telah ditetapkan sebagai tersangka menggunakan narkoba shabu dan lainnya sebelum peristiwa naas itu terjadi.

Sebelum kecelakaan terjadi, perempuan yang bekerja freelance di production house perfilman itu menghadiri acara di sebuah hotel di Jakarta Pusat. Saat kecelakaan mobil dipacu dengan kecepatan hingga 100 km/jam. Saat diperiksa Afriani tidak memiliki SIM dan STNK.  [mus]

Tags:

BAGIKAN


Rating artikel: (0 rates)
Rating
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar goldstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar goldstar goldstar bw
  • star goldstar goldstar goldstar goldstar gold
KOMENTAR SERUU