Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Untung S Rajab

Jakarta, Seruu.com - Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Untung S. Rajab mengatakan, dalam menentukan pasal untuk tersangka tabrakan maut di Tugu Tani, jajarannya perlu berdiskusi dengan Kejaksaan. Kasus tabrakan yang menewaskan sembilan orang ini bisa dimasukkan pasal pembunuhan.

"Kami rumuskan karena kerja penyidik ini akan dikoreski jaksa yang akan menuntut di sidang. Kalau bisa kita masukkan pasal pembunuhan ya kita masukkan sebagai pasal alternatif. Itu kita sidik. Polisi nggak bisa kerja sendiri. Ada hubungannya dengan jaksa. Kita diskusikan dengan jaksa untuk menggunakan pasal ini," ujar Untung di Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (25/1).

Menurut Untung, sampai saat ini Afriyani Susanti belum diberikan pasal pembunuhan. Karena proses penyidikan ini masih terus berjalan. "Pasal (pembunuhan) ini ada tiga. Karena salahnya, orang meninggal dunia. Kedua dia niat membunuh. Ketiga, merencanakan pembunuhan. Ini beda ancaman hukumannya," terangnya.

Dari tiga poin itu masih belum ada yang akan diberikan ke Afriyani "Belum, ini kan masih penyidikan. Kesimpulan itu nanti setelah diperiksa semua, setelah itu kita analisis, yakinkan penyidik, nanti diuji lagi oleh jaksa penutut umum. Nanti dikembalikan kalau nggak lengkap," jawabnya.

Sebelumnya kalangan DPR ternyata mendesak agar Apriani Susanti dijerat pasal pembunuhan. Karena rujukan hukum atau yurisprudensi atas penerapan pasal pembunuhan dalam kecelakaan lalulintas pernah dipakai di pengadilan dalam kasus yang mendudukan seorang sopir metromini pada tahun 1994. Caranya, polisi menjeratnya dengan pasal 338 KUHP, jaksa mendakwanya dengan pasal yang sama dan hakim pun mengizinkan penggunaan pasal 338 itu.

Untuk diketahui, yurisprudensi adalah putusan hakim terdahulu yang telah berkekuatan hukum tetap dan dapat dijadikan acuan hakim atau badan peradilan lain dalam memutus perkara atau kasus yang sama.

Yurisprudensi dalam kasus ini adalah yang terkait dalam kecelakaan maut Metromini bernopol B.7821VM jurusan Senen-Tanjung Priok pada 6 Maret 1994 silam. Saat itu, sopir Marojohan Silitonga alias Ramses Silitonga usai menenggak minuman anggur mengemudikan busnya yang sarat penumpang secara ugal-ugalan. Akibatnya, saat melintas Jalan Perintis Kemerdekaan, busnya slip dan nyebur ke Kali Sunter. 32 penumpangnya tewas di dalam sungai sedangkan 13 lainnya terluka parah.

Walau sempat buron ke kampung halamannya di Sumatera Utara, polis berhasil menangkapnya dan menjeratnya dengan Pasal 338 KUHP dan jaksa penuntut umum mendakwanya juga dengan Pasal 338 KUHP. Penggunaan pasal ini dikabulkan Majelis Hakim Jakarta Utara hingga ke tingkat Mahkamah Agung hingga Ramses divonis hakim hukuman 15 tahun penjara. [mus]

Tags:

BAGIKAN


Rating artikel: (0 rates)
Rating
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar goldstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar goldstar goldstar bw
  • star goldstar goldstar goldstar goldstar gold
KOMENTAR SERUU