Foto Apriani Susanti (twitter)

Jakarta, Seruu.com - Ahli hukum pidana dari Universitas Indonesia Teuku Nasrullah menjelaskan “teori keinsyafan akan kemungkinan” dapat digunakan oleh penyidik atau penuntut umum untuk menjerat Afriani, pelaku tabrak maut di depan halte tugu tani yang menewaskan 9 orang. Dalam teori itu, pelaku penabrakan sejak awal harusnya insyaf karena sebelum kejadian itu ia dianggap tahu mengenai bahaya narkoba dan mengemudi dibawah pengaruh narkoba dan alkohol.

Fakta bahwa Afriyani masih dalam pengaruh alkohol dan narkoba, mengebut di jalan raya, menyetir tanpa Surat Izin  Mengemudi menjadi unsur untuk memperberat dakwaan dan bisa diakumulasikan. “Penyidik atau penuntut umum harus bisa membuktikan ada fakta kesengajaannya dengan pendekatan itu,” kata Nasrullah.

Penyidik atau penuntut umum, kata Nasrullah, bisa menanyai banyak pihak dan saksi untuk membuktikan adanya unsur kesengajaan dalam kejadian tabrakan.

“Apakah dari awal dia yang menyetir? Apakah dia sadar pulang nanti dia lagi yang menyetir? Apakah sudah ada yang mengingatkan untuk tidak minum alkohol banyak atau mengkonsumsi narkoba karena nanti kalau menyetir bisa membahayakan?” katanya.

Nasrullah menjelaskan ada dua bentuk kesalahan yaitu kesengajaan dan kelalaian. Dalam kasus Afriyani, kalau ada unsur kesengajaan bisa dijerat dengan pasal 338 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tentang pembunuhan yang disengaja bisa diancam hukuman penjara paling lama 15 tahun.

Kalau tidak bisa dibuktikan adanya unsur kesengajaan maka itu kelalaian. Apabila ini yang disangkakan, lanjut Nasrullah, digunakan pasal 359 KUHP yaitu lalai atau tidak berhati-hati hingga menyebabkan orang lain kehilangan nyawa maka maka ancamannya 5 tahun penjara atau pasal 310 ayat 4 Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Darat mengatur bahwa orang yang mengakibatkan kecelakaan dan mengakibatkan korbannya meninggal terancam hukuman penjara paling lama 6 tahun.

“Dari hukuman 6 tahun, 9 tahun, dan 15 tahun itu bisa diperberat karena menggunakan narkoba, kebut-kebutan di jalan, menyetir tanpa SIM sehingga bisa ditambah pidana dakwaan dan diakumukasikan,” kata Nasrullah.

Namun, Nasrullah menambahkan hukum di Indonesia tidak berlaku akumulasi tapi semiakumulasi, yaitu diambil yang terberat ditambah sepertiga dari yang terberat itu. Misalnya, ia menjelaskan lebih rinci apabila unsur kesengajaan bisa dibuktikan maka bisa digunakan pasal 338 KUHP dengan ancaman 15 tahun penjara “Berarti semiakumulasinya, 15 tahun ditambah 5 tahun (sepertiga hukuman terberat), jadi 20 tahun,” katanya.

Jika unsur kesengajaan tidak terbukti, kata Nasrullah maka itu kelalaian sehingga digunakan pasal 310 ayat 4 Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Darat hukumannya maksimal 6 tahun. Jadi, lajut dia, apabila hukuman semiakumulasi menjadi 6 tahun penjara ditambah 2 tahun penjara, menjadi 8 tahun penjara.

Seperti diketahui, polisi meminta pendapat dari pakar hukum dan kejaksaan dalam menerapkan pasal bagi Afriyani. Sementara ini, ia disangka melanggar tiga lapis Pasal Undang-Undang Lalu Lintas dan penggunaan narkoba dengan hukuman maksimal enam tahun. Sejumlah orang mengingatkan polisi agar menerapkan pasal pembunuhan yang yurisprudensinya pernah ditetapkan dalam kasus tabrak maut Sopir Metromini ditahun 1994.

Sebelumnya, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto mengatakan pemanggilan pakar hukum itu untuk mengakomodasi pendapat masyarakat, kami meminta pendapat ahli hukum. “Barangkali ada pasal lain yang bisa dikenakan," katanya.

Afriyani dan tiga temannya sudah ditahan di Polda Metro Jaya. Ketiga teman Afriani, yaitu Adistina Putri Gani, 25 tahun; Ari Sendi, 34 tahun; dan Deni Mulyana, 30 tahun, hanya dikenakan Pasal 127 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang penyalahgunaan narkotika dengan ancaman hukuman satu tahun penjara.

Hari ini, Senin (30/1/2012)  Direktur Lalu Lintas Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Dwi Sigit mengatakan bahwa ketiga penumpang mobil “Xenia maut” sudah memperingatkan Afriyani Susanti untuk tidak mengemudi dalam keadaan mabuk. Mereka, kata Dwi, bahkan sudah mengajak Afriyani untuk menumpang kendaraan umum ketimbang mengemudi sendiri.

“Di dalam mobil mereka mengajak Afriyani untuk naik taksi. Kita sama-sama naik taksi saja,” kata Dwi di Markas Kepolisian Daerah Metro Jaya siang tadi menirukan percakapan para tersangka. “Tapi Afriyani menolak. Dia bilang dia masih bisa nyetir lantaran biasa dugem.”. [gendis]

Tags:

BAGIKAN


Rating artikel: (0 rates)
Rating
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar goldstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar goldstar goldstar bw
  • star goldstar goldstar goldstar goldstar gold
KOMENTAR SERUU