Burung Murai Batu salah satu burung khas Bangka Selatan (Istimewa)

Toboali, Bangka Selatan, Seruu.com - Burung khas di Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Bangka Belitung (Babel), terancam punah karena semakin maraknya aksi penangkapan burung di daerah itu.

"Populasi burung khas Bangka Selatan seperti murai batu, kacer, pentet, mandi darah betet dan burung berkicau lainnya semakin berkurang dan dikhawatirkan mengalami kepunahan," ujar Kabid Kehutanan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Bangka Selatan, Evan Sandy Maulana di Toboali, Sabtu.

Ia menjelaskan, semenjak populernya perlombaan burung berkicau di Babel, penangkapan burung liar mengalami peningkatan yang tinggi seiring nilai jual burung ini cukup tinggi, misalnya, harga burung murai batu yang belum terlatih mencapai Rp1,5 juta.

"Saat ini, sulit dan bahkan tidak ada lagi burung muari batu, kacer, pentet, betet dan burung berkicau lainnya di hutan karena burung yang ditangkap tidak dikembangbiakkan, warga hanya sekedar memelihara dan diperlombakan," ujarnya.

Ia mengatakan, burung ini mulai punah juga dipicu karena hutan yag semakin berkurang sebagai dampak penambangan bijih timah, perkebunan skala besar, dan penebangan hutan.

Selama 2012, seluas 80.332 hektare hutan produksi rusak parah dengan rincian 39.425 hektare sangat kritis dan 40.907 hektare kritis.

Seluas 16.869 hektare hutan lindung kritis dengan tingkat kekritisan lahan 5.984 hektare hutan sangat kritis dan 10.885 hektare hutan kritis.

"Kami berupaya menyelamatkan populasi burung ini dengan mencegah berbagai aktivitas yang dapat mengancam kelestarian burung, terutama aktivitas penangkapan burung secara ilegal, jangan sampai burung khas daerah ini menjadi kenangan karena punah," ujarnya.

Untuk itu, kata dia, demi meningkatkan kesadaran warga, kami menyosialisasikan pentingnya menjaga kelestarian burung dengan harapan masyarakat, terutama yang berada di sekitar hutan ikut bertanggungjawab menjaga kelestarian burung itu.

Selain itu, kami harapkan warga yang memelihara burung untuk mengembangbiakkan burung peliharaannya agar populasi burung ini tidak terputus.

"Kami kesulitan untuk menyita burung-burung peliharaan warga yang hampir punah ini, karena bukan kewenangan kami untuk melakukan penyitaan, menyita burung yang hampir punah ini merupakan kewengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA)," ujarnya.

Menurut dia, penanganan pelestarian satwa ini membutuhkan suatu instansi khusus misalnya Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) yang selama ini belum ada di Babel.

"Aksi eksploitasi burung ini harus dihentikan, karena kalau dibiarkan maka burung yang ada di Pulau Bangka dan Belitung akan habis," ujarnya. [ant/byn]

Tags:

Rating artikel: (0 rates)
Rating
  • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar bwstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar goldstar bwstar bw
  • star goldstar goldstar goldstar goldstar bw
  • star goldstar goldstar goldstar goldstar gold
Peraturan Komentar